Keberadaan mereka kadang tak banyak menarik perhatian. Kehadiran mereka juga jarang terekspose di sejumlah media.
Bahkan, banyak yang belum menyadari bahwa mereka adalah garda terdepan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Tanpa disadari, setiap langkah mereka begitu berarti dalam upaya pembangunan sumber daya manusia melalui layanan kesehatan dasar.
Tugas mereka pun tampaknya sederhana, dari membantu proses tumbuh kembang anak, pencegahan stunting, hingga edukasi gaya hidup sehat. Tapi jangan salah menilai, peran mereka sebenarnya begitu vital dalam mencetak generasi penerus yang unggul dan berkualitas.
Ya mereka adalah Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Merekalah pejuang yang turut andil dalam melayani kesehatan dasar yang dikelola dan diselenggarakan oleh masyarakat untuk ibu, anak, dan seluruh siklus hidup.
Nur Aisyah Siregar salah satunya. Wanita 57 tahun ini mengaku menjadi kader Posyandu lebih dari 30 tahun lamanya.
Baginya, Posyandu tak hanya sekadar suntikan Hepatitis B, BCG, Polio, DPT-HB-HiB, dan PCV semata. Tapi ada yang jauh lebih bermakna. Yakni mendatangkan harapan baru bagi tiap keluarga dengan Posyandu. Alasan itu jugalah yang melatarbelakangi wanita yang akrab disapa Bu Taing ini rela menjadi kader.
Awalnya Bu Taing mengaku kehadirannya hanya sebatas membantu Lurah untuk ikut mengajak masyarakat peduli dan berminat ke Posyandu.
Niatnya kala itu tulus, hanya ingin melihat para orang tua di lingkungannya memiliki generasi sehat dan unggul.
Dirinya tak tahan mendengar tangis pilu keluarga yang harus kehilangan buah hati karena ketidaktahuan dan ketidakpedulian akan peranan Posyandu dalam mengawal kesehatan dan menjaga siklus kehidupan di tengah masyarakat.
Berawal tanpa honor, wanita yang telah berusia senja ini mengawali tugas mulianya sejak tahun 1990 an.
“Sudah lebih 30 tahun saya jadi kader Posyandu. Awalnya bantu pak Lurah mengajak ibu-ibu bawa anaknya Posyandu, sekalian saya juga bawa anak waktu itu,” sebut Bu Taing saat ditemui di warung Ayam Penyet miliknya di kawasan Jalan HM Said, Medan, Rabu (29/10/2025) sore.
Seiring berjalannya waktu, Bu Taing semakin menikmati tugas mulianya. Jejak kecil langkah yang memiliki sejuta makna itu terus dilakoni. Dari gang ke gang, pintu ke pintu, dari rumah hingga kantor Lurah menjadi saksi perjalanan dalam meniti langkah mulianya.
Beragam edukasi dari penggiat kesehatan diikuti demi mendapatkan pemahaman sebelum lebih jauh melangkah di tengah masyarakat.
Proses itu pun cukup dinikmatinya. Dari tanpa honor, hingga hadirnya perhatian pemerintah dengan mengeluarkan honor Rp 15 ribu, lalu Rp50 ribu dan kini Rp80 ribu di setiap proses penyelenggaraan Posyandu yang berlangsung setiap bulannya itu.
“Sebenarnya honor itu lebih kepada menghargai tugas kami ya. Apa yang kami lakukan juga bukan hanya untuk sebuah keluarga tapi juga untuk negara,” ujar ibu dari empat anak itu.
Dalam perjalanannya Bu Taing mengaku ada suka dan duka yang dilalui.
“Ada yang gak terima saat anaknya dibilang kurang gizi, bahkan ada yang gak peduli dan menganggap Posyandu itu gak penting. Di situlah tantangan kami para kader,” ungkapnya.
Belum lagi honor yang pernah tertahan menjadi cerita lain dalam kisah perjalanannya sebagai kader Posyandu. Honor yang harusnya dikeluarkan setiap tiga bulan pernah tertunda hingga setahun lamanya.
“Ya pernah juga sih. Sempat banyak juga kader lain yang turun semangatnya untuk ikut membantu lagi. Tapi semuanya bisa dilalui karena memang bukan itu (Honor) tujuan utamanya,” kenang Bu Taing.
Kendati usianya tak muda lagi tapi semangatnya untuk terus bisa memberikan arti bagi orang lain adalah misi yang akan terus diusungnya.
Pelita I Gang Pisang Nomor 4 tepatnya kantor lurah Sido Rame Barat II Kecamatan Medan Perjuangan, sebagai tempat Posyandu dirinya mengabdi akan menjadi saksi sejarah bahwa banyak generasi emas yang lahir dan besar di lingkungannya.
Tempat ini juga, bagi Bu Taing akan menjadi jejak yang tertinggal dan akan selalu dikenang.
Bu Taing satu di antara ribuan kader Posyandu di Medan yang hadir tanpa kesan mendalam namun menebar sejuta kebaikan.
Sampai kapan Bu Taing akan bertahan? Pertanyaan yang menggelitik hati kecilnya.
Baginya tak ada batas waktu untuk selalu menebar kebaikan.
Kesehariannya berdagang diselingi waktu luang yang dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak menjadi misi mulianya.
Wanita berhijab yang juga mendedikasikan ilmunya lewat program maghrib mengaji itu yakin, kepuasan tak hanya soal materi tapi melihat senyum yang terselip di bibir mungil para calon penerus bangsa adalah mimpi indah di sisa hidupnya.
Oleh : Muhammad Yunan Siregar
Redaktur Pelaksana Metrojurnal.com
MEDAN (METROJURNAL.COM) - Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan mengaku tetap siaga dan waspada dalam…
MEDAN (METROJURNAL.COM) -Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Utara melaksanakan Penandatanganan…
MEDAN (METROJURNAL.COM) - Berbagai informasi yang beredar di media sosial (medsos) saat ini tidak bisa…
MEDAN (METROJURNAL.COM) - Provinsi Sumatera Utara dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan health tourism atau…
MEDAN (METROJURNAL.COM) - Direktur UPTD Khusus Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof Dr M Ildrem kini…
MEDAN (METROJURNAL.COM) - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Pirngadi Medan mencatat jumlah kunjungan pasien…